Meningkatkan Kualitas Industri Penyeberangan dan Pelayaran Nasional melalui Pengoptimalan Implementasi Teknologi Informasi

Terdiri dari lebih dari 13 ribu pulau, dengan populasi lebih dari 258 juta jiwa pada tahun 2016, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dan negara berpenduduk terbesar ke-4 di dunia. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar yang berada dihampir setiap pulau di Indonesia, maka Indonesia membutuhkan transportasi mendukung konektivitas seluruh wilayahnya.

Moda transportasi laut seperti kapal di Indonesia pada umumnya digunakan untuk dua tujuan, yaitu angkutan penyeberangan dan pelayaran masyarakat antar pulau dan distribusi barang ke pulau-pulau di seluruh Indonesia. Untuk angkutan penyeberangan dan pelayaran, biasanya digunakan masyarakat untuk keperluan seperti berwisata, mudik, dan sebagainya.

Seiring dengan perkembangan zaman, kebanyakan intensitas penggunaan moda transportasi udara seperti pesawat udara yang digunakan untuk melakukan penerbangan antar pulau ternyata lebih besar dibandingkan kapal laut. Sebagai contohnya, seperti yang terlihat pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali di tahun 2016 di bawah ini. Data menunjukkan bahwa jumlah penumpang pesawat udara, baik yang berasal dari penerbangan domestik maupun penerbangan internasional lebih banyak dibandingkan dengan kapal laut, meskipun persentase kenaikan jumlah penumpang pada kapal laut lebih tinggi dibandingkan pesawat udara.

Rendahnya intensitas penggunaan kapal laut dibandingkan pesawat udara ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

  • Waktu tempuh penerbangan menggunakan pesawat udara yang lebih cepat dibandingkan penyeberangan maupun pelayaran menggunakan kapal laut.
  • Berkembangnya bisnis maskapai berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) sehingga menyebabkan biaya penerbangan semakin murah.
  • Fasilitas dan pelayanan di bandara yang lebih nyaman, modern dan canggih dibandingkan di pelabuhan.
  • Kemudahan dalam melakukan pemesanan tiket perjalanan menggunakan pesawat udara atau kereta api secara online, terutama dari perusahaan penyedia layanan pemesanan tiket melalui website atau aplikasi.

Walaupun demikian, bukan berarti moda transportasi udara selalu unggul dibandingkan dengan moda transportasi laut. Seperti yang diketahui bahwa meskipun negara Indonesia yang memiliki banyak pulau, belum seluruh pulau memiliki bandara ataupun landasan pesawat yang dapat digunakan untuk pendaratan pesawat udara. Begitu pula untuk moda transportasi darat, karena jarak yang begitu jauh dan terpisah oleh lautan, maka sulit untuk dapat dilalui oleh kendaraan ataupun kereta api. Oleh karena itu, moda transportasi laut seperti kapal laut menjadi pilihan utama masyarakat.

Moda transportasi laut dimanfaatkan oleh masyarakat, dan juga berbagai pelaku industri dan penyedia jasa logistik untuk angkutan dan distribusi barang dalam jumlah yang besar, yang tidak dapat diangkut melalui darat ataupun udara. Maka dari itu, saat ini industri pelayaran lebih mengoptimalkan penggunaan kapal untuk usaha distribusi barang dan logistik antar pulau dibandingkan dengan usaha penyeberangan.

Namun, banyak faktor yang menjadi tantangan bagi pelaku industri pelayaran untuk meningkatkan kualitas pelayanan dalam industri pelayaran dan penyeberangan, supaya lebih banyak masyarakat yang menggunakan moda transportasi laut ini. Terlebih lagi karena tingginya beban biaya yang dikeluarkan untuk pelaku industri untuk bahan bakar dan perawatan (maintenance) kapal, maka kebanyakan pelaku industri pelayaran belum memanfaatkan secara optimal untuk pengembangan pada bidang lainnya, termasuk pemanfataan perangkat teknologi informasi (TI).

Pesatnya perkembangan zaman dan teknologi saat ini telah menjadi tantangan bagi industri penyeberangan dan pelayaran yang menggunakan moda transportasi kapal laut, untuk dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat dan industri modern kekinian. Berikut ini adalah contoh beberapa pemanfaatan teknologi informasi beserta dampaknya pada industri penyeberangan dan pelayaran nasional:

  1. Sistem informasi yang menampilkan jadwal alur kedatangan dan keberangkatan kapal, digunakan untuk mendapatkan akses informasi terkait kedatangan dan keberangkatan kapal di pelabuhan secara real time dan up-to-date. Hal ini akan membantu penumpang dan pelaku industri untuk mendapatkan jadwal pelayaran yang sesuai dengan kebutuhan.
  2. Sistem pemesanan tiket secara online menggunakan media internet dan perangkat aplikasi, baik yang dikembangkan oleh industri penyeberangan dan pelayaran sendiri, atau juga bekerja sama dengan perusahaan penyedia layanan pemesanan tiket. Dengan adanya pemesanan tiket secara online dan bekerja sama dengan pihak ketiga akan semakin memudahkan penumpang untuk mendapatkan berbagai macam opsi dalam melakukan pemesanan tiket secara resmi. Ini juga dapat mengurangi banyaknya calo yang menjual tiket secara tidak resmi dengan harga yang tinggi.
  3. Sistem pemeriksaan dan perekaman data jumlah penumpang kapal. Sistem ini digunakan untuk membantu industri penyeberangan dan pelabuhan melakukan pemeriksaan terhadap identitas penumpang sesuai dengan tiket yang telah dipesan, supaya tidak ada penumpang gelap/tidak resmi yang naik ke atas kapal, dan juga mencegah terjadinya kecelakaan kapal karena jumlah penumpang yang melebihi batas kapasitas.
  4. Sistem pengecekan dan pencatatan beban barang penumpang atau industri yang masuk dan keluar pelabuhan secara otomatis. Pemanfaatan sistem seperti ini dapat digunakan untuk melakukan pengecekan pada barang yang akan masuk dan keluar kapal. Selain itu, dapat diterapkan pula pada timbangan bagasi penumpang ataupun jembatan timbang, untuk mendeteksi apakah beban barang dari penumpang ataupun industri yang akan dimasukkan ke dalam kapal tidak melebihi kapasitas beban yang telah ditentukan. Hal ini tentu saja dapat membantu untuk mengurangi kecelakaan kapal yang disebabkan karena over capacity.
  5. Sistem informasi monitoring kapal, dapat digunakan untuk memonitor kondisi kelayakan kapal, sebelum maupun sesudah keberangkatan, untuk mengurangi tingkat kecelakaan kapal yang disebabkan oleh faktor kesalahan teknis. Implementasi sistem informasi ini dapat memberikan jaminan keselamatan dan keamanan bagi para penumpang dan pelaku industri bisnis yang menggunakan jasa kapal. Sistem ini juga dapat dimanfaatkan supaya industri pelayaran dan penyeberangan agar semakin rutin dalam melakukan perawatan (maintenance) pada kapal, dan masih banyak lagi perangkat TI atau sistem yang dapat diimplementasikan.

Implementasi perangkat TI yang modern dan canggih tidak dapat berjalan dengan optimal tanpa didukung oleh kesiapan pelaku industri dan pengguna jasa. Aturan main yang berupa kebijakan, prosedur, ataupun Service Level Agreement (SLA) yang mendukung implementasi TI perlu dibangun dan disepakati oleh seluruh stakeholder sebagai bentuk komitmen untuk mendukung kesuksesannya. Pada akhirnya, industri pelayaran dan penyeberangan dapat semakin bersaing dengan industri transportasi lainnya.